}
Free Atom Cursors at www.totallyfreecursors.com
Setelah itu copy kod JieZunaE: JENIS MUSIK

Rabu, 07 Mei 2014

JENIS MUSIK

MUSIK ANSAMBEL

Ansambel berasal dari kata ensemble (prancis) yang berarti bersama-sama sehingga musik ansambel dapat diartikan yaitu sebuah pertunjukan musik yang dilakukan secara bersama-sama dengan menggunakan lebih dari satu alat musik baik yang sejenis maupun yang campuran.
Dalam musik asambel dituntut kekompakan kelompok, keharmonisan nada serta penghayatan. dalam membawakannya kita harus kereatif baik dengan memainkan nada maupun mengkreasikannya sesuai dengan yang diinginkan agar lebih menarik.
Klasifikasi musik ansambel :
1. Berdasarkan jumlah pemain ansambel dibedakan menjadi 3 yaitu :
• Ans kecil
• Ans sedang
• Ans besar

2. Berdasarkan bentuk penyajiannya musik ansambel dibedakan menjadi 2 yaitu :
• Ansambel sejenis
Yaitu bentuk penyajian yang menggunakan alat music sejenis,contoh : ansambel recorder (semuanya memainkan alat music recorder).
• Ansambel campuran
Yaitu bentuk penyajian music ansambel yang menggunakan beberapa jenis alat musik (beraneka ragam), contoh : recorder, pianika, gitar, castagnet, tamborin, harmonica akord, dan lain-lain.

3. Alat musik menurut fungsinya dikelompokan menjadi 3 yaitu :
• Alat musik melodis
Berfungsi untuk memainkan / membawakan susunan nada-nada (melodi) sebuah lagu. Contoh : recorder, biola, pianika, harmonica, bellyra, vibraphone, gloken-spiel,flute,dan lain-lain.
• Alat musik ritmis
Berfungsi untuk menentukan / memberikan irama (ritme) tertentu dalam pergelaran musik juga berhubungan dengan ketukan dan birama. Contoh : triangle, castagnet, ketipung, kendang, symbal, tamborin, rebana, snare drum, bass drum, tifa, dan lain-lain.
• Alat musik harmonis
Berfungsi mengiring melodi (membawa / memainkan akor) biasanya para ahli menyebut nama soliter (berfungsi ganda dapat untuk melodi tapi juga dapat sebagai pengiring melodi). Contoh :gitar, pianika, harmonica akor, ukulele, dan lain-lain. alat music soliter tradisional misalnya gender, gambang, talempong, siter, kecapi sunda.

4. Contoh ansambel
• Duet / duo
• Trio
• Paduan suara
• Vocal grup
• Ansambel musik sekolah
• Orkestra
• Keroncong
• Band
• Dll
Pada zaman dahulu, orang menciptakan musik semata-mata untuk kepentingan upacara ritual, yaitu sebagai pengantar doa kepada dewa atau sesuatu yang mereka percayai. Musik yang mereka ciptakan, belum menggunakan alat-alat musik sebagaimana kita ketahui saat ini.
Seiring dengan perkembangan peradaban manusia, alat musik mengalami perubahan. Sebelumnya, orang yang hanya memanfaatkan tubuh sebagai alat musik dan hanya bersifat ritmis.
Musik merupakan napas bagi kehidupan semua orang. Musik mampu menyatukan berbagai perbedaan yang ada di antara manusia. Bahkan, musik mampu menjadi media komunikasi di antara semua lapisan masyarakat tanpa memperdulikan perbedaan harkat dan martabat.
Perkembangan yang terjadi pada musik saat ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan tatanan kehidupan manusia. Musik saat ini tidak lagi dijadikan sarana peribadatan, tetapi sudah menjadi sarana hiburan dan pendidikan. Musik saat ini telah menjadi sesuatu yang universal dan dapat dinikmati semua orang.
A.    MEDIA KOMUNIKASI MELALUI MUSIK
1.        Musik sebagai sarana peribadatan
Di beberapa daerah di Indonesia, musik sangat menyatu dengan kehidupan masyarakat. Masyarakat suatu daerah sangat menjungjung tinggi, memelihara, dan menghormati nilai-nilai yang terkandung di dalam musik. Dengan demikian, musik suatu daerah dapat lestari hingga saat ini.
Masyarakat Sunda, khususnya dalam tradisi bercocok tanam padi, melakukan ritus-ritus untuk memuliakan dan menghormati Dewi Padi atau Dewi Sri. Angklung merupakan salah satu alat bunyi-bunyian yang kadang-kadang disertai dengan nyanyian merupakan salah satu sarana untuk menghormati Nyi Pohaci Sangyang Sri.
Angklung sebagai ritus dari penanaman padi masih digunakan oleh orang sunda yang berdiam di pedal aman, seperti di ciptarasa (tergabung dalam kesatuan Banten Kidul), Kabupaten Sukabumi, Cipining (bogor), cijulang (Ciamis), Sanding (garut), dan Arjasari (Bandung).
2.    Musik sebagai sarana pendidikan
Awalnya, musik hidup dan berkembang di lingkungan nonformal. Masyarakat luas yang memiliki kepedulian dan kepentingan tertentu berusaha melestarikan musik. Untuk lebih melestarikannya masyarakat menjadikan musik sebagai bagian dari bidang pendidikan. Dengan begitu para generasi penerus memiliki wawasan budaya dan sikap kreatif untuk menghargai karya-karya musik, baik dari para seniman lama atau baru. Alat-alat musik yang kerap diajarkan cara memainkannya disekolah-sekolah formal, antara lain recorder, suling, calung, pianika, keyboard, kecapi, gendang, gitar, angklung, serta gandelan.
3.    Musik sebagai sarana hiburan
Musik sebagai sarana hiburan biasanya kita temukan pada perayaan pesta pernikahan, khitanan, pesta rakyat, dan sebagainya. Musik tersebut sipatnya menghibur para penonton. Karena itu kadang-kadang kualitas musiknya kurang baik. Misalnya kualitas tidak penting, yang penting musik dapat mengikuti selera penonton. Dan akhirnya, penonton puas melihat pagelaran musik. Sebagai contoh kesenian angklung, menjadi salah satu hiburan masyarakat yang digelar disanggar seni “Saung Angklung Udjo” yang dahulu dipimpin oleh Bapak Udjo Ngalagena.
B.        BENTUK SAJIAN
Dalam suatu pagelaran musik, penonoton akan melihat penyajian alat musik.
1.      Permainan tunggal atau konser tunggal ialah bentuk permainan musik yang disajikan seorang pemain dengan satu/beberapa alat musik.
2.      Permainan bersama atau ansambel ialah bentuk permanian musik yang disajikan beberapa orang atau sekelompok orang dengan sejumlah alat musik, baik alat musik sejenis maupun alat musik berbeda.
Hal-hal yang dapat mempengaruhi kedua bentuk penyajian musik ialah:
1.    Jumlah pemain musik (musisi)
2.    Jumlah alat musik
3.    Luas gedung (tempat pertunjukan)
4.    Konteks pagelaran

C.    JENIS SUMBER BUNYI ALAT MUSIK
Ada beberapa cara seseorang dapat memainkan alat musik agar alat musik mengeluarkan suara yang bagus. Cara memainkan alat musik, antara lain dengan ditiup, digesek, dipetik, dan dipukul.
1.    Alat musik tiup, misalnya recorder, terompet, dan harmonica.
2.    Alat musik gesek, misalnya biola, selo, dan rebab.
3.    Alat musik petik, misalnya gitar, mandolin, dan kecapi.
4.    Alat musik pukul, misalnya untuk alat musik pukul bernada yaitu gamelan, calung, dan kolintang. Sedangkan untuk alat musik pukul tidak bernada seperti tamborin, rebana, dan gendang.

D.    FUNGSI ALAT MUSIK
Alat musik juga dapat dikelompokkan berdasarkan fungsinya, yaitu:
1.    Alat Musik Melodis
Alat musik melodis adalah alat musik bernada yang dapat difungsikan sebagai pembawa alur melodi atau rangkaian melodi. Contoh alat musik ini adalah flute, harmonica, dan seksofon.
2.    Alat Musik Ritmis
Alat musik ritmis adalah alat musik yang tidak memiliki nada, alat ini difungsikan sebagai pembawa irama sehingga karya musik yang dimainkan dapat stabil. Contoh alat musik ini adalah gendang, tamborin, dan triangle.
3.    Alat Musik Harmonis
Alat musik harmonis adalah alat musik yang dapat menghasilkan paduan akor secara harmoni. Contoh alat musik ini adalah gitar, piano, dan akor deon. Alat musik ini difungsikan untuk mengiringi lagu.

E.    MEMAINKAN ALAT MUSIK
Memainkan alat musik hendaknya dilaksanakan sebaik mungkin. Pelatihan yang baik bukan berarti jumlah pelatihannya sering, melainkan pelatihan yang teratur dan berkualitas. Kualitas permainan ialah apabila kita melakukan kesalahan, kita menganalisis masalah tersebut dan langsung memperbaikinya. Selanjutnya, kita mengulangi terus pelatihan kita sampai benar-benar tidak ada kesalahan.

F.    BERLATIH MUSIK DENGAN ALAT MUSIK RITMIS
Alat musik ritmis ialah alat musik yang dapat memberikan atau mengeluarkan irama tertentu ketika dimainkan bersama-sama. Untuk memainkan alat musik ini, kita memerlukan notasi ritmis.
Notasi ritmis adalah notasi yang digunakan dalam pagelaran musik ansambel. Notasi ritmis dapat berupa notasi blok, notasi gambaran, atau berupa tanda-tanda tertentu. Pemakainan notasi bergantung pada komposer dalam menuliskan notasi sehingga notasi dapat mempermudah para musisi dalam memainkan suatu karya musik.

Lagu  Perjuangan

Lagu Perjuangan Indonesia disebut dengan istilah musik fungsional yang diciptakan untuk tujuan nasional. Dalam sejarah musik dikenal bahwa musik berfungsi mengiringi peribadatan agama (ritual), musik mengiringi tari berfungsi sebagai sarana hiburan. Fungsi primer lagu-lagu perjuangan Indonesia adalah sebagai sarana upacara, dimana kedudukan para pemain dan peserta didalam seni pertunjukan harus dilibatkan, hingga seni pertunjukan jenis ini bisa disebut the Art of Participation. Fungsi sekunder lagu-lagu perjuangan sebagai media agitasi politik berguna untuk membangkitkan semangat perjuangan melawan penindasan, dan keberadaan jenis lagu-lagu ini di Indonesia pada masa perang kemerdekaan jumlahnya cukup banyak. Sebagai seni pertunjukan dalam lagu-lagu perjuangan, idiom musik barat dikemas berdasarkan kemampuan musikalitas masyarakat pendukungnya. Unsur teknis bernyanyi tidak begitu penting, diutamakan makna serta isi teks lagu bersifat agitasi disampaikan dan dihayati oleh seluruh masyarakat Indonesia.
Secara umum pengertian lagu-lagu perjuangan adalah kemapuan daya upaya yang muncul melalui media kesenian di dalam peranannya pada peristiwa sejarah kemerdekaan di Indonesia. Upaya ini disebut sebagai sikap patriotis didalam konteks sejarah sebelum dan sesudah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Dalam pengertian yang luas sebagai perasaan nasional lagu-lagu perjuangan disebut sebagai lagu wajib, diajarkan mulai pada tingkat pendidikan dasar, hingga perguruan tinggi dan wajib diketahui seluruh masyarakat Indonesia. Berdasarkan peraturan pemerintah melalui Intruksi Menteri Muda Pendidikan dan Pengajaran dan Kebudayaan Nomor. 1 tanggal 17 Agustus 1959, diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1963, telah ditetapkan 7 buah lagu-lagu perjuangan sebagai lagu wajib yaitu (1) lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ ciptaan W.R. Supratman. (2) lagu ‘Bagimu Neg’ri ciptaan Kusbini. (3) lagu ‘Maju tak Gentar’ ciptaan Cornel Simanjuntak. (4) lagu ‘Hallo-hallo Bandung’ ciptaan Ismail Marzuki. (5) lagu ‘Rayuan Pulau Kelapa’ ciptaan Ismail Marzuki. (6) lagu ‘Berkibarlah benderaku’ ciptaan Bintang Sudibyo, dan (7) lagu ‘Satu Nusa satu Bangsa’ ciptaan L. Manik.
Pada masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia, komponis pejuang Indonesia turut berperan dalam perjuangan kemerdekaan dengan menciptakan komposisi lagu yang disebut dengan lagu-lagu perjuangan. Lagu-lagu perjuangan dapat membangkitkan semangat juang untuk membela tanah air, misalanya lagu-lagu yang sudah ditetapkan sebagai lagu-lagu wajib Nasional.

Ciri-Ciri lagu perjuangan:


·         kebanyakan diciptakan pada masa perjuangan sekitar tahun 1945 – 1950

·         Syair lagu biasanya dapat membangkitkan semangat perjuangan.

Bentuk komposisi lagu perjuangan ada dua macam, yakni lagu perjuangan dengan semangat berkobar (bentuk Mars), dan lagu-lagu yang menyentuh perasaan (bentuk Hymne).

 

Musik Seriosa


Seriosa berasal dari kata Serious sebagai lawan kata dari entertaintment, musik seriosa bersifat serius sehingga pemain atau penyanyinya memerlukan banyak latihan dan kosentrasi untuk membawakan musik seriosa. lagu seriosa indonesia beberapa contoh :
Melati Suci
Mekar Melati

SEJARAH PERKEMBANGAN LAGU SERIOSA INDONESIA

Lied German adalah komposisi musik vokal German, memiliki tiga bentuk lagu: strophic, through-composed dan song cycle. Masuk ke Indonesia, dibawa oleh Bangsa Belanda pada abad16. Keberadaannya memberi inspirasi bagi para pencipta lagu bangsa Indonesia, sehingga berpengaruh terhadap lahirnya lagu seriosa. Lagu seriosa adalah komposisi musik vokal Indonesia, sebagai adaptasi lied German. Lahir di Indonesia tahun 1930-an, dipelopori oleh Cornel Simanjuntak. Lagu seriosa mengandung nuansa musik Nusantara, dan idiom musik Indonesia. Sarat dengan muatan budaya, historis, dan nilai nasionalisme Indonesia. Karenanya menjadi lagu khas Indonesia, dan sebuah genre musik di Indonesia. Pasang surut sejarah perkembangan lagu seriosa, sangat dipengaruhi oleh perkembangan situasi politik, sosial dan teknologi di Indonesia. Dalam hal ini kebijakan pemerintah pada masa-masa tertentu, kondisi pendidikan musik, perkembangan application music technology dan media elektronik berpengaruh terhadapnya.
Lagu seriosa hingga kini masih menjadi media pembelajaran musik vokal yang efektif di pendidikan tinggi maupun sekolah musik negeri dan suasta. Dikarenakan kandungan nilai artistik yang khas Indonesia dan teknik produksi suaranya menggunakan dua gaya bernyanyi Jerman dan Itali. Hingga kini masih eksis pada pergelaran musik klasik, walaupun tidak menjadi sajian utama.
Lagu seriosa merupakan jenis musik seni untuk seni, yang diutamakan adalah nilai artistik bukan nilai finansial. Jenis kesenian seperti ini, kelastarian dan pengembangannya menjadi tanggung jawab pemerintah. Berbeda dengan jenis lagu hiburan, yang diutamakan adalah selera masyarakat dan nilai finansial. Kelestarian dan pengembangannya, bisa ditopang oleh masyarakat.

Lieder Jerman
Setelah pascakemerdekaan lagu-lagu perjuangan berkembang menjadi lagu seriosa diilhami dari lieder Jerman, seni Romantik abad ke-19 yang mencapai puncaknya di tangan komponis besar Franz Schubert. Dalam sebuah Lieder, alur melodi, tema syair dan iringan pianonya harus menyatu dan senyawa. Ciri itu juga nampak pada lagu seriosa Indonesia melalui kisah kasih asmara yang dikemas dalam tema kepahlawanan. Sementara itu, ilmu pengetahuan musik juga mengalami perkembangan yang pesat dengan berdirinya berbagai lembaga pendidikan formal pada berbagai strata. Ilmu pengetahuan musik telah membuka peluang bagi masyarakat untuk memilih bidang sebagai profesi yang sesuai dengan karier di lapangan baik sebagai pencipta musik, penyaji musik, pendidik musik, peneliti musik dan pengelola kegiatan musik.
Jika kita melihat suatu pertunjukan konser sebenarnya reportoar hasil ciptaan itu memberikan gambaran sesuatu kesan berasal dari luar penciptanya atau lingkungan hidupnya. Jikalau ditelaha lebih dalam tampak bahwa lingkungan hidup sipencipta berfungsi sebagai sumber inspirasi. Proses terjadinya penciptaan merupakan suatu ilham yang ajaib menghasilkan kematangan musikal, hal ini memerlukan pekerjaan yang teliti. Salah satu contoh pada karya F. Schubert karyanya yang terkenal berjudul ‘Lieder’ telah menghabiskan waktu bertahun-tahun lamanya untuk menyelesaikan pernyataan musiknya. Sebaliknya karya yang dibuat secara tergesa-gesa tanpa perhitungan ilmu musik akan menghasilkan karya yang kurang memuaskan.

Musik Indonesia

Menyebutkan kata istilah musik Indonesia memang memiliki pengertian yang beraneka ragam dan kadang-kadang menimbulkan pengertian yang kotroversial. Tetapi dengan adanya jenis musik yang tumbuh dan berkembang ditengah-tengah masyarakat masa kini, dapat kita sebut seni musik Indonesia tetapi seni musik Indonesia yang bagaimana inilah permasalahannya. Pada permulaan kemerdekaan Indonesia masih memiliki kompois-komponis yang memenuhi syarat. Komponis Indonesia yang dapat diandalkan yaitu Amir Pasaribu, Cornel Simanjuntak dan Liberty Manik ketiganya berasal dari Sumatera Utara yang sangat dipengaruhi musik misionaris Jerman. Salah seorang diantaranya nama komponis Amir Pasaribu, adalah pemikir musik yang handal terlihat dari tulisan dan pengamatannya yang tajam menilai musik.1 Sedang musik seni yang mengutamakan nilai estetika baik dari melodi dan syairnya disebut lagu seriosa terkenal para penyanyinya ialah Pranajaya, Prananingrum, Aning Katamsi, Siti Chairani Proehoeman.
Siti Chairani Proehoeman Penyanyi Opera & Seriosa (Foto Dok:Wisnu.M)
Persoalannya sekarang bahwa lagu seriosa sejak lahir hingga kini tidak mengalami perkembangan apa-apa kecuali dalam ajang festival bintang radio dan televisi yang diselenggarakan setiap tahun oleh pemerintah, diminati para penyanyi seriosa yang menjadi pelajaran mayor vokal di sekolah musik dan perguruan tinggi seni, atau kursus-kursus vokal. Kejayaan lagu seriosa di Indonesia berhenti semenjak wafatnya tokoh-tokoh pencipta dan beberapa penyanyinya. Kehadiran para tokoh ini telah memberikan andil corak perkembangan musik di Indonesia dan dari merekalah karya lagu seriosa berkumandang tanpa melahirkan generasi penerus.
Teknik menyanyi seriosa karena suara partikel udara melalui pita suara menyebabkan getaran pada kedua pita suara menghasilkan bunyi dan kemudian diterima oleh alat pendengar (telinga). Suara adalah produksi terakhir dari suatu proses mekanikal yang terjadi dipangkal tenggorokan (larynx) dan hulu keronkongan (pharynx). Suara tidak terbentuk tanpa aparat vokal yang fungsional karena kegiatan fisiologi ini yang menjadi fondasi seni menyanyi (The art of Singing) dengan dasar ilmiah.


Sejarah Lagu Anak


Mungkin anda masih teringat tentang lagu-lagu anak jaman dahulu, seperti “Bintang Kecil”, “Pelangi”, “Naik-naik Ke Puncak Gunung”, “Burung Kakak Tua”, dan lain-lain. Lagu anak-anak tersebut sangat sering kita nyanyikan pada saat kita masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Dan mungkin hingga saat ini, lagu-lagu tersebut masih sering di nyanyikan di sekolah-sekolah Taman Kanak-kanak dan yang setaraf dengan TK (Paud, Taman Bermain, dan lain-lain).
Padahal pada Era Tahun 1900an, banyak sekali beredar dan diluncurkan album lagu-lagu anak yang nge-top, dengan banyak sekali penyanyi cilik seperti Bondan Prakosa dengan albumnya “Lumba-lumba”, Enno Lerian dengan “Malas Bersih-bersih”, Trio Kwek-kwek dengan “Si Jago Mogok”, Pandu Papra dengan "Laura Dacosta", Mellisa dan Kak Seto (Si Komo) dengan “Si Komo Lewat”, Joshua dengan “Diobok-obok”. Lagu-lagu tersebut sangat banyak dikenal dikalangan anak-anak TK dan SD, karena memang lagunya sangat bagus dan beberapa diantaranya (tidak semua) mengandung nilai pendidikan dan nilai moral. Dari sisi promosi pun, banyak perusahaan rekaman lagu anak-anak bersedia mengeluarkan biaya yang tidak kecil.
Lagu-lagu anak yang pernah muncul dikalangan anak-anak tersebut, memang sempat naik daun. Namun entah mengapa, pada tahun 2000an lagu-lagu anak seakan-anak lenyap dari peredaran dan lama kelamaan anak-anak cenderung lebih memilih lagu-lagu Pop Dewasa sebagai lagu favorit mereka. Anak-anak yang dulu dengan mudah hafal lagu-lagu anak, hingga saat ini lebih hafal lagu-lagu Pop Dewasa yang kebanyakan bertemakan “Cinta”.
Para pencipta lagu anak, yang pernah terkenal seperti Ibu Kasur, Papa T-Bob, dan lain-lain, seakan-akan menghilang dan tidak pernah muncul kembali. Selain itu, tidak ada lagi pencipta-pencipta lagu yang terkenal. Generasi penerus para pencipta lagu dan penyanyi cilik yang nge-top pun tidak ada lagi. Mungkin pada zaman ini, ada banyak pula muncul pencipta lagu-lagu anak, namun nama mereka tidak sebesar Ibu Kasur dan Papa T-Bob. Beberapa penyanyi cilik juga mulai bermunculan, namun eksistensi mereka kurang banyak mendapat tanggapan yang baik dari anak-anak. Soal selera terhadap lagu-lagu anak, anak-anak lebih cenderung memilih dan mengenal lagu anak dari luar negeri (berbahasa Inggris), seperti “Old Mac Donald” atau “Twinkle-twinkle Little Star”.

Kualitas dari lagu pendidikan anak-anak
Lagu anak adalah lagu yang pantas didengarkan dan dinyanyikan untuk anak-anak, dan selalin mengandung unsure hiburan, akan lebih baik jika mengandung unsur pendidikan juga.

Kualitas dari sebuah lagu anak-anak bisa dilihat dari segi:
1.      Nada/bit :

Fun (menyenangkan dan lucu), tidak terlalu keras dan Bit yang terlalu cepat (seperti music rock, apalagi underground)
2.      Lirik:

Mudah dipahami : Menggunakan kata-kata yang sederhana dan tidak terlalu panjang (Terutama lagu yang mengandung nilai pendidikan dan moral), boleh panjang asalkan mengandung sebuah cerita yang menarik dan mudah dipahami anak-anak, dan memiliki kata-kata yang berbobot .
3.      Tema lagu:

_ Mengandung pesan moral yang berguna bagi anak-anak (kebaikan, persahabatan, kerajinan, dll), dan tidak mengandung hal-hal yang hanya diperuntukkan untuk orang-orang dewasa (cinta, selingkuh, pertengkaran).

_Mengandung nilai pendidikan (sarana mempermudah anak-anak untuk belajar tentang sebuah materi mata pelajaran tertentu (misalnya, lagu balonku: tentang warna).

4. Atraktif:

Bisa mengajak anak-anak untuk bergerak (menari, olah raga, bertepuk tangan dan menggerakkan bagian tubuh mereka).

5. “Dewasa” tapi tidak cengeng.

Dewasa: Mengajarkan hal-hal yang baik, yang biasa diberikan orang dewasa kepada anak-anak.
Tidak Cengeng: karena bisa membuat anak-anak kehilangan semangat di masa kecilnya dan melemahkan mental anak-anak. Karena dunia anak-anak adalah dunia yang seharusnya penuh keceriaan.

6. Tidak menimbulkan kerancuan saat diinterpretasi.


Seperti yang pernah terjadi pada lagu anak-anak jaman dahulu. Kadang mengandung kerancuan makna.

7. Disukai anak-anak (nada, lirik, gerakan, penyanyi, dll)




2 komentar: