}
Free Atom Cursors at www.totallyfreecursors.com
Setelah itu copy kod JieZunaE: Tradisi Legena

Rabu, 04 Juli 2012

Tradisi Legena


 KARYA TULIS
TRADISI SEDEKAH BUMI LEGENANAN
DI WARUNGASEM

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas UAS:
Mata Kuliah                  : Ilmu Budaya Dasar
Dosen Pengampu         : Drs. Slamet Untung, M.Ag



Disusun Oleh :
Nama       : Manshuroh 
NIM         : 2021 211 033
Kelas        : RE IA




SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2011
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah dan inayah-Nya kepada kita. Shalawat serta salam kita sanjungkan kepada Rasulullah SAW yang kelak kita nantikan syafaatnya di hari Kiamat. Amiin...
Maksud dan tujuan penulis menyusun karya tulis ini untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Ilmu Budaya Dasar. Pada kesempatan ini, penulis juga ingin menyampaikan terima kasih kepada Bapak Drs. Slamet Untung, M.Ag selaku Dosen Pengampu Ilmu Budaya Dasar.
Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari sempurna. Akan tetapi penulis berharap semoga karya tulis ini dapat bermanfaat untuk kita. Amiin...



Warungasem,     Desember 2011


Penulis

 DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...................................................................................... i
KATA PENGANTAR.................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................. 1
BAB II LANDASAN TEORI........................................................................ 2
BAB III PEMBAHASAN.............................................................................. 4
A.    Pengertian Sedekah Bumi Legenanan........................................ 4
B.     Tujuan Sedekah Bumi Legenanan.............................................. 4
C.     Prosesi dan Pelaksanaan Sedekah Bumi Legenanan di
Warungasem............................................................................... 5
BAB IV PENUTUP........................................................................................ 8

BAB I
PENDAHULUAN

Manusia diciptakan oleh Tuhan di bumi ini sebagai Khalifah. Kita sebagai manusia diajarkan untuk berbuat baik kepada semua makhluk yang ada di bumi ini, seperti : tumbuhan, hewan, alam serta makhluk ghaib. Dengan berbuat baik pada semua makhluk di bumi ini, akan terbina hubungan yang harmonis, keselarasan antar sesama makhluk, tercipta keseimbangan alam dan terhindar dari musibah atau bencana.
Diantara contoh cara manusia untuk berbuat baik kepada makhluk di bumi ini adalah Tradisi Sedekah Bumi Legenanan. Tradisi ini sering kita temukan di masyarakat sampai saat ini. Tradisi Sedekah Bumi ini umumnya dilakukan untuk menolak balak atau memperoleh keselamatan.
Dalam karya tulis ini, penulis akan membahas tentang Tradisi Sedekah Bumi Legenanan di Warungasem, dengan tujuan agar kita mengetahui unsur-unsur budaya yang terkandung dalam tradisi tersebut. Kita juga dapat mengetahui fenomena budaya yang ada di lingkungan sekitar kita.
 BAB II
LANDASAN TEORI

A.      Pengertian Kebudayaan
Kata kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berartiu budi atau akal. Sehingga kebudayaan dapat diartikan “hal-hal yang bersangkutan dengan akal”. Adapun kata culture (bahasa Inggris) yang artinya sama dengan kebudayaan yang berasal dari kata Latin Colere berarti mengalahm, mengerjakan terutama mengolah tanah atau bertani.
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil cipta, rasa, karsa manusia untuk memenuhi kebutuhan kehidupannya dengan cara belajar yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat.[1]

B.       Wujud Kebudayaan
1.      Wujud kebudayaan sebagai kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan.
2.      Wujud kebudayaan sebagai kompleks aktivitas sistem tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.
3.      Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

C.      Unsur-unsur Kebudayaan
1.      Bahasa (lisan maupun tertulis)
2.      Sistem teknologi (peralatan dan perlengkapan hidup manusia)
3.      Sistem mata pencaharian (mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi)
4.      Organisasi sosial (sistem kemasyarakatan)
5.      Sistem pengetahuan
6.      Kesenian (seni rupa, seni sastra, seni suara
7.      Religi[2]
Diantara contoh fenomena budaya masyarakat adalah Tradisi Sedekah Legenanan yang akan dibahas pada karya tulis ini. 
BAB III
PEMBAHASAN
TRADISI SEDEKAH BUMI LEGENANAN DI WARUNGASEM

Warungasem adalah kecamatan di daerah Kabupaten Batang, yang terdiri dari beberapa Desa seperti, Gapuro, Warungasem, Banjiran, Masin, Cepagan, Pesaren, Sidorejo, Sijono, Terban. Kecamatan Warungasem ini terkenal dengan daerah yang agamis karena banyak ulama / kyai yang lahir dari kecamatan ini. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri masyarakatnya masih memegang tradisi yang sampai sekarang masih dilakukan oleh masyarakat di Kecamatan Warungasem adalah Tradisi Sedekah Bumi Legenanan.
A.      Pengertian Sedekah Bumi Legenanan
Sedekah Bumi adalah suatu bentuk prosesi ritual untuk berbuat baik atau memuliakan sesuatu yang ada di bumi, misalnya manusia, tumbuhan, hewan, alam dan makhluk ghaib. Setiap daerah mempunyai cara sendiri-sendiri untuk melaksanakan  tradisi ini. Tradisi Sedekah Bumi ini adalah warisan dari nenek moyang atau pendahulu yang masih melekat sampai saat ini pada masyarakat di Kecamatan Warungasem.
Sesuai dengan namanya Sedekah Bumi Legenanan ini dilaksanakan setahun sekali, pada Bulan Legena. Biasanya dilaksanakan pada malam Jum’at, tidak ditentukan tinggalnya yang penting dalam bulan Legena atau Dzulqa’dah.
Legena berasal dari bahasa Jawa yang artinya pasrah, tawakal. Dalam bulan Hijriyah atau Islam, Legena ini disebut juga dengan Dzulqa’dah (ذولقعدة) yang artinya tempat persimpuhan, sehingga bulan ini diyakini oleh masyarakat di Kecamatan Warungasem sebagai bulan atau waktu yang tepat untuk memasrahkan diri, tawakal dengan cara melaksanakan sedekah bumi.

B.       Tujuan Sedekah Bumi Legenanan
Setiap tradisi yang dilakukan oleh masyarakat mempunyai maksud dan tujuan tertentu, seperti halnya Tradisi Sedekah Bumi Legenanan ini mempunyai tujuan. Tujuannya yaitu untuk menolak balak, mendapat keselamatan, terhindar dari musibah atau bencana.
Akan tetapi, kita harus yakin bahwa segala sesuatu itu ditentukan oleh Allah SWT, Allah lah yang memberi suatu musibah dan keselamatan. Tradisi sedekah bumi adalah bentuk ikhtiar kita, selanjutnya kita pasrahkan kepada Allah SWT.

C.      Prosesi dan Pelaksanaan Sedekah Bumi Legenanan di Warungasem
1.      Sedekah Bumi Legenanan di Desa Masin
Dalam pelaksanaan sedekah bumi ini, masyarakat di Desa Masin membuat sedekah atau selamatan dalam bentuk GOLONG. Golong adalah nasi dengan lauk pauknya dibungkus di daun pisang
Biasanya penduduk desa Masin ini membuat golong dengan jumlah tertentu sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Kemudian mereka membawanya ke masjid atau musholla pada malam harinya (biasanya malam jumat). Di masjid atau di musholla itu diadakan kegiatan membaca surat yasin dan tahlil yang di ikuti oleh penduduk laki-laki di Desa Masin ini. Biasanya di pandu oleh Kyai yang termasyuhur di desa ini. Kemudian golong itu dibagikan kepada penduduk yang mengikuti membaca yasin dan tahlil di masjid atau musholla.
Dengan membuat sedekah atau selamatan dalam bentuk makanan dan melaksanakan kegiatan baca yasin dan tahlil diyakini penduduk desa Masin sebagai bentuk ikhtiyar mereka untuk memasrahkan diri kepada Allah, sehingga Allah akan memberikan keselamatan kepada mereka.

2.      Sedekah Bumi Legenanan di Desa Banjiran
Dalam pelaksanaan sedekah bumi Legenanan ini, masyarakat di desa Banjiran setiap malam Jumat pada bulan Legena (Dzulqa’dah) membuat nasi tumpeng yang diberi cabai, tomat, wortel. Selain itu, juga diberi belalang, capung yang di goreng, serta bunga tujuh rupa. Kemudian sesaji ini diletakkan di tempat-tempat yang diyakini masyarakat desa Banjiran ini sebagai tempat yang angker atau tempat yang banyak dihuni makhluk halus atau makhluk ghaib.
Para ulama’/ kyai di Desa Banjiran ini selalu memperingatkan kepada penduduk bahwa jangan sampai dengan Tradisi sesaji inimenimbulkan syirik kepada Allah. Para ulama’/ kyai menegaskan bahwa Tradisi sesaji ini dilakukan karena melestarikan kebudayaan/ warisan nenek moyang dan ikhtiyar penduduk setempat untuk memeroleh keselamatan. Mereka juga menegaskan bahwa Allahlah yang senantiasa memberikan keselamatan kepada makhluknya.
Tradisi sedekah bumi Legenanan dengan cara sesaji di desa Banjiran ini dimaksudkan untuk berbuat baik kepada seluruh penghuni bumi, baik hewan, tumbuhan, alam maupun makhluk ghaib.

3.      Sedekah Bumi Legenanan di Desa Cepagan dan Pesaren.
Tradisi sedekah bumi Legenanan di desa Cepagan dan Pesaren ini dilaksanakan dengan cara mengadakan pertunjukan wayang semalam suntuk, dimulai dari pukul 21.00 hingga pukul 04.00 dini hari. Biasanya wayang yang digunakan adalah wayang golek yang dipandu oleh Dalang Ki Retno, dalang yang termasyhur di daerah ini.
Masyarakat desa Cepagan dan Pesaren ini mengadakan pertunjukan wayangdalam rangka melestarikan tradisi sedekah Bumi Legenanan. Biasanya mereka mengambil tempat di tanah lapang. Mereka memilih cara mengadakan pertunjukan wayang dalam rangka sedekah bumi karena mereka meyakini bahwa kesenian wayang adalah kesenian yang perlu dilestarikan dan merupakan warisan budaya nenek moyang.
Mereka juga berprinsip bahwa mereka mengikuti jejak sunan kalijaga  yang dalam dakwahnya menggunakan kesenian wayang dengan lakon cerita / sejarah Islam. Karena masyarakat zaman dahulu masih terpengaruh budaya Hindu/ Budha yang menyukai kesenian wayang sehingga Sunan Kalijaga melakukan pendekatan kesenian wayang.
Selain itu karena masyarakat Desa Cepagan dan Pesaren memang suka dengan kesenian wayang ini, dibuktikan dengan banyaknya dalang yang berasal dari daerah ini, dan setiap ada hajatan mereka juga sering mengundang pertunjukkan wayang untuk memeriahkan acara mereka, misalnya khitanan.
 BAB IV
PENUTUP
KESIMPULAN



Sedekah Bumi Legenanan ini adalah suatu bentuk prosesi ritual untuk berbuat baik atau memuliakan sesuatu yang ada di bumi yang dilaksanakan pada bulan Legena (Dzulqa’dah).
Tujuan dari Tradisi Sedekah Bumi Legenanan adalah untuk menolak balak, memperoleh keselamatan dan terhindar dari bencana atau musibah.
Pelaksanaan Sedekah Bumi Legenanan ini berbeda-beda sesuai dengan daerah masing-masing. Misalnya di Desa Masin masyarakatnya membuat sedekah golong dan melakukan kegiatan membaca yasin dan tahlil di masjid atau musholla. Di desa Banjiran, masyarakatnya melaksanakan ritual sedekah bumi Legenanan dengan meletakkan sesaji di tempat-tempat yang angker oleh penduduk setempat. Di Desa Cepagan dan Pesaren penduduknya melaksanakan Sedekah Bumi Legenanan dengan cara mengadakan pertunjukkan wayang semalam suntuk.
Meskipun dilakukan dengan cara yang berbeda-beda, Tradisi sedekah Bumi ini masih melekat dan merupakan warisan budaya yang masih kita jumpai di lingkungan masyarakat pada zaman sekarang ini.

DAFTAR PUSTAKA

Notowidagdo, Drs. H. Rohiman. 2000. Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Al-quran dan Hadits. Jakarta : PT. Grafindo Persada.
Widagdho, dkk, Drs. Djoko. 2008. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta : Bumi Aksara.

DAFTAR PUSTAKA


[1] Drs. Djoko Widagdho. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta : Bumi Aksara. 2008. Hlm. 21
[2] Drs. H. Rahman Notowidagdho. Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Al Qur’an dan Hadits. Jakarta : PT. Grafindo Persada. 2000. Hlm. 33

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar